Random News

ibrohim antajaya. Diberdayakan oleh Blogger.

Flexible Home Layout

Tabs

Main menu section

Sub menu section

Total Tayangan

Blog Archive

Find Us On Facebook

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Followers

Label Links

Translate

Follow Us

Author

Footer Ads

  1. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit.
  2. Aliquam tincidunt mauris eu risus.
  3. Vestibulum auctor dapibus neque.

Connect Us

Ternyata Oh Ternyata! Rating Media-Media Atas Film Hanum & Rangga Terbukti HOAX?


Mengherankan memang film baru saja rilis sudah mendapat rating sempurna dari berbagai media. Tetapi sayangnya berbanding terbalik dengan jumlah penonton. Bila dibandingkan dengan penonton film bergenre sama dengan jam tayang yang hampir sama, A Man Called Ahok, maka bagai langit dan sumur.

Mengherankan pula film yang direkomendasikan berbagai media harus menggunakan tangan ketiga untuk meningkatkan jumlah penonton. Hanum sendiri mengandalkan rektor salah satu universitas untuk merekomendasikan mahasiswanya untuk menonton film tersebut. Ketua PAN pun harus mewajibkan kadernya untuk menonton film tersebut. Bukan hanya kader saja, caleg PAN pun didorong untuk memobilisasi massa demi mendongkrak jumlah penonton. Tidak sampai di situ, kabarnya, sampai disediakan voucher untuk menarik perhatian penonton.

Dan setelah semua usaha itu dilakukan, jumlah penontonnya tidak sanggup menyaingi film A Man Called Ahok yang sama genrenya dan hampir sama jam tayangnya. Kog bisa yah, kan medapatkan rating sempurna dari media-media ternama?

Ternyata oh ternyata keheranan kita juga sepertinya menjadi keheranan tim CEK FAKTA. Mereka kemudian mengonfirmasi kebenaran rating dari media itu. Dari sekian media yang memberi rating, seperti Detik.com, Viva.co.id, Kapanlagi.com, tribunnews.com dan media lainnya.

Berdasarkan penelusuran CEK FAKTA Viva.co.id membantah memberikan rating pada film Hanum & Rangga. Redaksi Viva.co.id mengatakan mereka merasa tidak memberikan rating terhadap film tersebut. Memang mereka biasa memberi rating, tetapi terhadap film Hanum & Rangga, mereka tidak memberi rating.

*"Kami tidak pernah merasa dimintai (memberi) rating. Nah, terus kami biasa lah kalau ulas film, terus kami saja kaget waktu lihat (gambar) di fanpage-nya film itu. Itu kan karena membawa nama viva, harusnya izin dulu, dan kami nilainya juga profesional kan. Tapi kan ini tiba-tiba mereka ngasih rating sendiri atas nama viva.”* (Managing Editor viva.co.id, Hadi Supapto, Liputan6)

Viva.co.id sendiri sudah mengajukan komplain terhadap gambar tersebut. Pihak film tersebut juga sudah meminta maaf dan menurunkan gambar tersebut, tetapi belum memberikan klarifikasi serta menjelaskan kenapa rating itu bisa dikeluarkan seperti itu.

*"Kita juga komplain. Mereka sih sudah minta maaf dan langsung menurunkan itu. Kami minta klarifikasi kenapa ada rating keluar begitu. Tapi sampai sore ini klarifikasi belum terkirim ke kami."* (Managing Editor viva.co.id, Hadi Supapto, Liputan6)

Ternyata hal yang sama juga diterangkan pihak Kapanlagi.com. Mereka memang tidak memberikan rating. Tetapi mereka menganggap masalah sudah selesai setelah ada konfirmasi dari pihak film tersebut.

”Kami memang minta konfirmasi, dan mereka beritikad baik serta memahami bahwa itu bukan penilaian untuk review. Sekarang masalahnya sudah clear.” (Ellyana Mae, Liputan6)

Sudah tidak laku, sudah memobilisasi masa, mengerahkan seluruh jaringan, tetapi ternyata tidak berhasil meningkatkan jumlah penonton. Lalu sekarang kita terperanjat lagi ketika rating pun ternyata terbukti adalah hoaks, kebohongan.

Bukan saya, melainkan media bersangkutanlah yang mengomplain klaim rating film Hanum & Rangga. Apakah seluruhnya atau hanya sebagian saja media yang menyatakan tidak memberi rating, tetap saja klaim sepihak itu adalah kebohongan.

Hanya demi meningkatkan jumlah penonton, rela menyebarkan hoaks. Akan jadi apa perfilman Indonesia kalau seperti ini. Bahkan sejatinya, bukan hanya memobilisasi massa, mengandalkan kuasa di partai, memanfaatkan relasi dengan rektor suatu universitas, menyebarkan rating hoaks, Hanum Rais juga menuding adanya permainan pengerahan penonton A Man Called Ahok dengan cara memborong tiket. Kan sudah tambah parah tuh namanya.

Saya jadi teringat dengan peristiwa kebohongan Ratna Sarumpaet. Hanum Rais adalah salah satu tokoh utama yang memastikan bahwa luka Ratna adalah benar-benar akibat penganiayaan, karena ia adalah dokter. Dia sendiri dalam video yang penuh dengan air mata serta simpati palsu itu mampu membuat Indonesia ini hampir termakan hoaks terbesar sepanjang sejarah Indonesia yang disebarkan oleh orang-orang berpendidikan tinggi bahkan seorang capres-cawapres serta tim pemenangnya.

Jadi tidak heran sih kalau demi meningkatkan popularitas film dia mereka memproduksi kebohongan atau klaim sepihak. Meskipun tindakan itu tentu tidak dapat dibenarkan sama sekali. Apa pun alasannya, hanya demi keuntungan diri sendiri tega mengandalkan kebohongan, klaim sepihak, dan hoaks, maka dia adalah manusia biadab. Sorry to saylah, ya!

Apa yang kalian lakukan itu jahat, siapa pun pelaku rating hoaks!

Salam dari rakyat jelata

SUMBER : seword.com

Share:

Tidak ada komentar:

Side Ads

Definition list
Consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua.
Lorem ipsum dolor sit amet
Consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua.

Hot in week

Popular Posts

Blog Archive

Recent Posts

Unordered List

  • Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit.
  • Aliquam tincidunt mauris eu risus.
  • Vestibulum auctor dapibus neque.

Sample Text

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua.

Pages

Theme Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.